Perlu Daftar Merek Baru Saat Tambah Produk atau Jasa? Ini Risikonya
Smartlegal.id -

“Perlu daftar merek baru saat bisnis menambah produk atau jasa? Ketahui kapan merek lama belum cukup melindungi ekspansi bisnis.”
Banyak perusahaan membangun merek selama bertahun-tahun sebelum akhirnya memperluas bisnisnya.
Awalnya, sebuah brand mungkin hanya digunakan untuk satu jenis produk. Namun seiring pertumbuhan bisnis, perusahaan mulai:
- membuka lini produk baru;
- masuk ke kategori bisnis berbeda;
- membuka layanan tambahan;
- memperluas pasar.
Pada tahap ini, banyak pelaku usaha menganggap bahwa sertifikat merek yang sudah dimiliki otomatis melindungi seluruh ekspansi bisnis.
Padahal, perlindungan merek memiliki batas tertentu.
Hak atas merek berkaitan dengan barang dan/atau jasa yang didaftarkan. Artinya, ketika bisnis berkembang ke kategori baru, perusahaan perlu memastikan apakah perlindungan merek sebelumnya masih mencakup kegiatan tersebut.
Jangan sampai brand sudah terkenal, tetapi ketika ekspansi dilakukan, ternyata perlindungan hukumnya belum mengikuti perkembangan bisnis.
Baca juga: Risiko Sengketa Merek: Kapan Bisnis Perlu Rebranding?
Apakah Sertifikat Merek Lama Bisa Melindungi Produk Baru?
Sertifikat merek memberikan hak eksklusif kepada pemiliknya setelah merek terdaftar.
Namun, hak tersebut tidak berlaku tanpa batas untuk seluruh jenis usaha.
Dalam pendaftaran merek, barang dan jasa diklasifikasikan berdasarkan sistem Klasifikasi Nice yang terdiri dari:
- kelas 1–34 untuk barang;
- kelas 35–45 untuk jasa.
Karena itu, perlindungan merek ditentukan berdasarkan kelas dan uraian barang/jasa yang tercantum dalam sertifikat.
Contohnya:
Sebuah perusahaan mendaftarkan merek ABC untuk produk makanan.
Beberapa tahun kemudian perusahaan tersebut berkembang dan menggunakan merek ABC untuk:
- membuka restoran;
- menjual minuman kemasan;
- menyediakan layanan katering.
Meskipun menggunakan nama yang sama, kegiatan tersebut dapat berada pada cakupan kelas barang/jasa yang berbeda.
Artinya, perusahaan perlu melakukan pemeriksaan kembali apakah pendaftaran sebelumnya sudah mencakup ekspansi tersebut.
Baca juga: Pelanggaran Merek Dagang: Risiko Merek Mirip Brand KW
Kapan Perlu Daftar Merek Baru untuk Produk atau Jasa Baru?
Pendaftaran merek tambahan perlu dipertimbangkan ketika bisnis mulai memperluas penggunaan merek ke kategori baru.
Beberapa kondisi yang perlu diperhatikan:
1. Menambah Produk dengan Kategori Berbeda
Misalnya:
- bisnis makanan mulai menjual minuman kemasan;
- perusahaan kosmetik mulai menjual produk perawatan tambahan;
- brand pakaian mulai masuk ke aksesori.
Produk baru tersebut perlu diperiksa apakah masih berada dalam kelas merek yang sama.
2. Membuka Layanan Baru
Ekspansi tidak hanya berupa produk.
Bisnis juga dapat berkembang melalui layanan.
Contohnya:
- perusahaan makanan membuka restoran;
- brand retail membuka layanan digital;
- perusahaan teknologi menyediakan layanan tambahan.
Dalam kondisi tersebut, perusahaan perlu memastikan kelas jasa yang relevan sudah terlindungi.
3. Membuat Portofolio Brand untuk Ekspansi
Bagi perusahaan yang sedang berkembang, merek sebaiknya tidak hanya dipandang sebagai nama usaha.
Merek merupakan aset bisnis yang dapat digunakan untuk:
- ekspansi cabang;
- licensing;
- franchise;
- kerja sama bisnis.
Karena itu, perusahaan yang memiliki rencana pertumbuhan perlu membangun portofolio merek secara strategis.
Baca juga: Merek Asing di Indonesia: Kenapa Bisa Ditolak DJKI?
Apa Risiko Jika Produk Baru Tidak Dilindungi?
Menggunakan merek lama untuk ekspansi tanpa melakukan pemeriksaan dapat menimbulkan beberapa risiko.
1. Produk Baru Tidak Memiliki Perlindungan Optimal
Perusahaan mungkin memiliki sertifikat merek, tetapi perlindungannya hanya berlaku pada barang/jasa yang tercantum.
2. Muncul Hambatan Saat Pendaftaran
Ketika perusahaan ingin memperluas kelas merek, dapat ditemukan pihak lain yang sudah lebih dahulu mendaftarkan merek serupa.
Pasal 21 UU Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis mengatur bahwa permohonan merek dapat ditolak apabila memiliki persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan merek lain untuk barang/jasa sejenis.
3. Biaya Rebranding Menjadi Lebih Besar
Risiko terbesar muncul ketika produk sudah:
- dipasarkan;
- memiliki pelanggan;
- menggunakan kemasan;
- melakukan promosi besar.
Jika kemudian merek bermasalah, perusahaan dapat menghadapi biaya perubahan identitas bisnis.
Bagaimana Strategi Perlindungan Merek Saat Bisnis Berkembang?
Perusahaan yang sedang ekspansi sebaiknya melakukan audit portofolio merek secara berkala.
Langkah yang dapat dilakukan:
- Inventarisasi seluruh produk dan jasa yang menggunakan merek.
- Bandingkan dengan kelas dan uraian barang/jasa dalam sertifikat merek.
- Identifikasi rencana ekspansi bisnis dalam beberapa tahun ke depan.
- Daftarkan perlindungan merek tambahan sebelum produk baru diluncurkan.
- Lakukan penelusuran merek untuk mengurangi risiko benturan dengan pihak lain.
Dengan strategi tersebut, perlindungan merek dapat mengikuti perkembangan bisnis, bukan hanya melindungi kondisi bisnis saat ini.
Kesimpulan
Merek yang sudah terdaftar bukan berarti otomatis melindungi seluruh ekspansi bisnis.
Ketika perusahaan menambah produk, layanan, atau memasuki pasar baru, perlindungan merek perlu dievaluasi kembali.
Bagi bisnis yang sedang tumbuh, pengelolaan merek sebaiknya dipandang sebagai bagian dari strategi ekspansi, bukan sekadar administrasi pendaftaran.
Berencana memperluas produk atau layanan dengan brand yang sudah dimiliki? Smartlegal.id membantu perusahaan melakukan audit portofolio merek, strategi pendaftaran kelas tambahan, serta perlindungan IP agar ekspansi bisnis berjalan dengan fondasi hukum yang tepat.
Author: Nasywa Azzahra
Editor: Dwiki Julio
























