Merek Mirip Apakah Melanggar? Belajar dari Kasus Meta Muse
Smartlegal.id -

“Merek mirip apakah melanggar? Pahami persamaan pada pokoknya, risiko nama brand mirip, dan pentingnya cek merek sebelum launching produk.”
Meta resmi meluncurkan Muse, personal AI agent yang dirancang untuk membantu pengguna menjalankan berbagai tugas, mulai dari mengirim email, membuat rencana, memesan perjalanan, hingga melakukan pembelian. Muse diperkenalkan Meta pada 8 September 2026 dan untuk saat ini diluncurkan di Amerika Serikat.
Penggunaan nama tersebut kemudian menarik perhatian karena Muse juga merupakan nama band rock asal Inggris yang telah menggunakan nama tersebut selama puluhan tahun. Band ini diketahui telah mendaftarkan mereknya sejak 1999. Pada 2026, username @muse yang sebelumnya digunakan band di Instagram dan X juga berubah menjadi @museband dan @Musetheband, sementara Meta menggunakan @muse untuk produk AI-nya.
Belakangan, vokalis Muse, Matt Bellamy, menjelaskan bahwa perubahan tersebut bukan semata-mata karena Meta “mencuri” username. Dalam wawancara pada September 2026, Bellamy menyebut dirinya sempat berkomunikasi dengan Mark Zuckerberg dan menyatakan bahwa persoalannya berkaitan dengan trademark, termasuk kesepakatan agar Meta tidak menggunakan nama Muse untuk musik dan merchandise milik band.
Namun, penggunaan nama yang sama tidak serta-merta membuat suatu pihak dianggap melanggar merek. Jika ada merek mirip apakah melanggar Hak Kekayaan Intelektual (HKI) pihak lain secara otomatis? Lantas, mengapa band sebesar Muse tidak serta-merta menyeret Mark Zuckerberg ke Pengadilan Niaga?
Baca juga: Perlu Daftar Merek Baru Saat Tambah Produk atau Jasa? Ini Risikonya
Meta Gunakan Nama Muse untuk AI Agent, Band Muse Pindahkan Username
Muse yang diluncurkan Meta bukan sekadar chatbot yang memberikan jawaban atas pertanyaan pengguna. Produk ini diposisikan sebagai personal AI agent yang dapat menjalankan tugas atas arahan pengguna, seperti mengirim email, mengatur jadwal, mengisi formulir, melakukan pembelian, hingga membantu menyusun dan menjalankan rencana jangka panjang.
Meta juga menjelaskan bahwa Muse dapat bekerja melalui aplikasi yang terhubung dan tetap menjalankan tugas di latar belakang. Menariknya, nama yang dipilih Meta sama dengan nama band rock asal Inggris, Muse.
Band yang dibentuk pada 1994 tersebut telah menggunakan nama Muse sebagai identitas komersial selama puluhan tahun. Menurut laporan detikInet, band tersebut juga telah mendaftarkan mereknya sejak 1999.
Perubahan username kemudian semakin memunculkan dugaan adanya persoalan merek. Sebelum peluncuran AI agent Meta, akun band yang sebelumnya menggunakan @muse berubah menjadi @museband di Instagram dan @Musetheband di X. Setelah Muse AI diperkenalkan, akun produk Meta menggunakan @muse.
Meski demikian, mekanisme perpindahan username tersebut tidak dapat langsung dianggap sebagai bukti adanya pelanggaran merek. Bahkan, Matt Bellamy kemudian menjelaskan bahwa pihaknya telah berkomunikasi dengan Zuckerberg mengenai persoalan tersebut dan menyebut adanya aspek trademark dalam pengaturan penggunaan nama Muse.
Dengan demikian, persoalan antara Meta dan band Muse sebenarnya perlu dibedakan menjadi dua: penggunaan username di platform digital dan penggunaan “Muse” sebagai merek dalam kegiatan perdagangan barang dan/atau jasa.
Baca juga: Risiko Sengketa Merek: Kapan Bisnis Perlu Rebranding?
Apakah Nama “Muse” Milik Meta Bisa Dianggap Melanggar Merek?
Dalam hukum Indonesia, perlindungan merek pada dasarnya berkaitan dengan penggunaan suatu tanda untuk membedakan barang dan/atau jasa dalam kegiatan perdagangan. Ketentuan mengenai penolakan pendaftaran merek diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis (UU 20/2016), sebagaimana telah diubah, termasuk melalui UU Nomor 6 Tahun 2023.
Pasal 21 ayat (1) UU 20/2016) mengatur bahwa permohonan merek dapat ditolak apabila mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan merek pihak lain yang telah terdaftar atau dimohonkan lebih dahulu untuk barang dan/atau jasa sejenis. Ketentuan yang sama juga mencakup merek terkenal untuk barang/jasa sejenis serta dalam kondisi tertentu untuk barang/jasa yang tidak sejenis.
Artinya, kesamaan kata “Muse” saja belum cukup untuk menentukan apakah penggunaan nama oleh Meta merupakan pelanggaran merek. Ada beberapa hal yang perlu diperiksa, salah satunya adalah barang dan/atau jasa yang dilindungi merek tersebut. Merek pada dasarnya memberikan hak eksklusif dalam ruang lingkup barang atau jasa yang didaftarkan.
Dalam kasus ini, band Muse bergerak di bidang musik dan hiburan, sedangkan Meta menggunakan Muse sebagai nama personal AI agent. Keduanya memiliki karakter dan fungsi yang berbeda. Karena itu, perlu dilihat lebih lanjut apakah jasa yang dilindungi oleh merek Muse milik band mencakup atau berkaitan dengan jasa yang diberikan oleh produk AI Meta.
Penilaian juga tidak hanya bergantung pada bentuk tulisan yang identik. Dalam pemeriksaan persamaan pada pokoknya, berbagai faktor dapat dipertimbangkan, termasuk persamaan secara visual, fonetik atau bunyi, konseptual, serta hubungan antara barang dan/atau jasa dan reputasi merek yang dibandingkan.
Namun, terdapat satu aspek lain yang menjadi penting jika merek Muse milik band dapat memenuhi kriteria sebagai merek terkenal. Pasal 21 ayat (1) huruf c UU Merek membuka kemungkinan penolakan terhadap merek yang memiliki persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan merek terkenal milik pihak lain untuk barang dan/atau jasa yang tidak sejenis, dengan persyaratan tertentu.
Dengan kata lain, “Muse” yang sama tidak otomatis berarti Meta melanggar merek band Muse. Perlu dilakukan pemeriksaan terhadap cakupan perlindungan merek, persamaan pada pokoknya, hubungan barang/jasa, reputasi merek, serta fakta penggunaan nama tersebut dalam perdagangan.
Baca juga: Sengketa DIESEL vs Ramayana: Kenapa Merek Terdaftar Bisa Digugat?
Username Sama Tidak Otomatis Berarti Pelanggaran Merek
Perubahan username @muse menjadi @museband memang dapat menimbulkan kesan bahwa telah terjadi perebutan nama. Namun, username media sosial dan hak atas merek merupakan dua hal yang berbeda.
Username pada Instagram atau X merupakan identitas akun dalam suatu platform. Sementara itu, hak atas merek diberikan negara kepada pemilik merek terdaftar untuk menggunakan merek tersebut dalam kegiatan perdagangan barang dan/atau jasa dalam cakupan perlindungan yang diberikan. Definisi dan konsep hak atas merek tersebut juga ditegaskan dalam ketentuan pendaftaran merek yang berlaku.
Karena itu, seseorang yang lebih dahulu menggunakan username tertentu belum tentu otomatis menjadi pemilik hak merek atas nama tersebut. Sebaliknya, pemilik merek terdaftar juga tidak otomatis memiliki hak untuk menguasai seluruh username yang menggunakan kata yang sama di setiap platform.
Dalam kasus Muse, fakta bahwa akun band tidak lagi menggunakan @muse juga tidak dengan sendirinya menghapus hak merek yang telah dimiliki. Terlebih, laporan mengenai perubahan username menunjukkan bahwa perpindahan tersebut terjadi dalam konteks komunikasi antara pihak band dan Meta, bukan semata-mata bukti bahwa Meta telah dinyatakan melanggar hak merek.
Bagi pelaku usaha, kasus ini menunjukkan pentingnya melakukan trademark clearance sebelum meluncurkan produk dengan nama tertentu. Pencarian tidak cukup hanya dilakukan berdasarkan apakah nama tersebut masih tersedia sebagai username, tetapi juga perlu memeriksa apakah nama yang akan digunakan telah terdaftar atau dimohonkan pihak lain pada kelas barang dan/atau jasa yang relevan.
Terlebih, apabila suatu brand telah memiliki reputasi kuat, pemeriksaan perlu dilakukan lebih luas karena perlindungan terhadap merek terkenal dapat menjangkau kondisi tertentu bahkan ketika barang atau jasa yang digunakan tidak sejenis.
Meskipun Muse milik band dan Muse milik Meta menggunakan nama yang identik, pertanyaan hukumnya bukan sekadar siapa yang lebih dulu menggunakan nama tersebut di media sosial. Perlu dilihat pula bagaimana nama itu digunakan secara komersial, untuk barang/jasa apa, apakah terdapat persamaan pada pokoknya, dan apakah merek yang lebih dahulu digunakan memiliki reputasi sebagai merek terkenal.
Untuk bisnis yang sedang menyiapkan nama produk, layanan, atau brand baru, pengecekan merek sejak sebelum peluncuran dapat membantu mengurangi risiko harus mengganti nama setelah investasi pemasaran sudah terlanjur besar.
Jangan berspekulasi dengan keamanan aset bisnis Anda. Lakukan Trademark Clearance Search secara presisi dan amankan nama perusahaan Anda bersama Konsultan Kekayaan Intelektual (IP Consultant) Terdaftar dari Smartlegal.id!
Author: Nasywa Azzahra
Editor: Dwiki Julio
























