Cara Membuat Cash Flow dan Contohnya untuk Melihat Kondisi Keuangan Perusahaan

Smartlegal.id -
Cara Membuat Cash Flow dan Contohnya
Freepik/author/Freepik

“Memahami cara membuat cash flow dan contohnya membantu pengusaha dapat menilai kondisi keuangan perusahaan secara menyeluruh, memantau kas yang tersedia, dan merencanakan penggunaan dana secara strategis.”

Setiap bisnis tentu ingin tumbuh dan berjalan dengan stabil. Namun, tidak sedikit pengusaha yang hanya melihat keberhasilan dari besar kecilnya keuntungan tanpa benar-benar memahami kondisi keuangan perusahaannya.

Faktanya, bisnis yang terlihat menguntungkan belum tentu memiliki keuangan yang sehat. Banyak perusahaan yang akhirnya kesulitan menjalankan operasional karena tidak mampu mengatur arus uang yang keluar dan masuk dengan baik.

Di sinilah pentingnya memahami cash flow sebagai alat untuk membaca kondisi keuangan perusahaan secara menyeluruh. Melalui laporan ini, pengusaha bisa melihat apakah bisnis memiliki cukup dana untuk bertahan, berkembang, dan memenuhi setiap kewajiban yang ada.

Tanpa pengelolaan cash flow yang baik, perusahaan bisa saja kehilangan arah dalam mengambil keputusan finansial. Oleh karena itu, memahami dan mengelola arus kas dengan tepat menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan dan kestabilan usaha.

Baca juga: Cara Membuat Perusahaan Sendiri, Cek Syarat, Biaya dan Prosedurnya Sesuai UU Cipta Kerja

Mengenal Cash Flow 

Cash flow atau arus kas merupakan gambaran pergerakan uang yang masuk dan keluar dari suatu perusahaan dalam periode tertentu. Melalui laporan ini, dapat diketahui bagaimana kondisi keuangan perusahaan sebenarnya apakah sedang berada dalam posisi surplus atau justru defisit.

Secara sederhana, cash flow memperlihatkan bagaimana dana diperoleh dan digunakan dalam kegiatan bisnis. Uang yang masuk disebut cash inflow, sedangkan uang yang keluar disebut cash outflow. Keduanya menjadi elemen utama yang mencerminkan aktivitas keuangan perusahaan dari waktu ke waktu.

Sumber pemasukan bisa berasal dari berbagai hal, seperti hasil penjualan, laba usaha, pendapatan investasi, atau sumber dana lainnya. Sementara pengeluaran digunakan untuk membayar kewajiban seperti biaya operasional, pajak, cicilan, atau pengeluaran bisnis lainnya.

Ketika jumlah cash inflow lebih besar daripada cash outflow, maka perusahaan memiliki arus kas positif yang menandakan kondisi keuangan sehat. Namun, jika yang terjadi sebaliknya, arus kas menjadi negatif dan hal ini perlu segera dievaluasi agar operasional bisnis tetap berjalan stabil.

Baca juga: 7 Strategi Sebelum Melakukan Ekspansi Bisnis yang Wajib Dilakukan Agar Tidak Rugi Di Tengah Jalan

Fungsi Cash Flow Perusahaan 

Cash flow bukan sekadar catatan keluar masuknya uang, tetapi alat penting untuk menilai dan mengelola kondisi keuangan perusahaan. Melalui laporan ini, manajemen dapat memahami bagaimana bisnis berjalan dan menentukan langkah strategis ke depan. Berikut beberapa fungsi utamanya: 

  1. Menilai kesehatan keuangan: Cash flow membantu melihat kemampuan perusahaan dalam menghasilkan dan menggunakan dana untuk membiayai operasional serta memenuhi kewajiban.
  2. Mendukung pengambilan keputusan: Data arus kas menjadi dasar dalam menentukan strategi bisnis, seperti investasi, pembiayaan, atau penghematan pengeluaran.
  3. Mengukur efisiensi operasional: Laporan ini menunjukkan apakah kegiatan operasional menghasilkan pendapatan yang sepadan dengan biaya yang dikeluarkan.
  4. Dasar perencanaan keuangan: Arus kas digunakan untuk merencanakan kebutuhan dana dan memastikan keberlanjutan operasional di masa depan.
  5. Mendeteksi potensi masalah keuangan: Pemantauan arus kas secara rutin membantu perusahaan mengenali tanda-tanda ketidakseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran sejak dini.

Baca juga: 5 Cara Cek Legalitas Perusahaan CV atau PT Terdaftar Secara Online dengan Mudah dan Akurat!

Jenis-Jenis Cash Flow dalam Perusahaan

Setiap perusahaan tentu memiliki arus kas yang berbeda tergantung dari aktivitas bisnisnya. Untuk memahami pergerakan keuangan secara menyeluruh, arus kas biasanya dibagi menjadi beberapa jenis. 

Berikut tiga jenis cash flow yang paling umum digunakan dalam laporan keuangan perusahaan:

1. Operating Cash Flow

Operating cash flow menunjukkan arus kas yang berasal dari kegiatan utama perusahaan, seperti penjualan produk, pembayaran gaji, dan biaya operasional lainnya. 

Arus kas positif pada bagian ini menjadi tanda bahwa perusahaan mampu menjalankan aktivitas bisnisnya dengan baik tanpa bergantung pada pendanaan eksternal.

Rumus:
Operating Cash Flow = Laba Bersih + Beban Non-Tunai – Perubahan Modal Kerja

2. Investing Cash Flow

Investing cash flow berkaitan dengan aktivitas investasi perusahaan, seperti pembelian atau penjualan aset tetap, properti, atau instrumen keuangan. 

Biasanya arus kas dari investasi bersifat negatif karena dana digunakan untuk ekspansi atau investasi jangka panjang. Meski begitu, angka negatif pada bagian ini tidak selalu buruk karena bisa menjadi tanda bahwa perusahaan sedang mengembangkan aset untuk pertumbuhan di masa depan.

Rumus:
Investing Cash Flow = Penerimaan Investasi – Pengeluaran Investasi

3. Financing Cash Flow

Financing cash flow berkaitan dengan aktivitas pembiayaan perusahaan, seperti penerbitan saham, pembayaran utang, dan pembagian dividen kepada pemegang saham. 

Jenis arus kas ini membantu perusahaan memahami bagaimana sumber modal dikelola untuk menjaga kestabilan finansial dan memastikan kegiatan operasional tetap berjalan dengan baik.

Rumus:
Financing Cash Flow = Kas Masuk dari Ekuitas atau Utang – (Dividen + Pembelian Kembali Ekuitas/Utang)

Baca juga: 8 Cara Meningkatkan Pendapatan Perusahaan yang Efektif Di Era Modern Saat Ini

Cara Membuat Cash Flow Perusahaan dan Perusahaan

Menyusun laporan cash flow adalah langkah penting untuk mengetahui kondisi keuangan perusahaan secara nyata. Melalui laporan ini, pengusaha dapat melihat sejauh mana bisnis mampu menghasilkan kas, menutup kewajiban, dan menjaga kestabilan operasional. 

Terdapat dua dokumen utama yang menjadi dasar dalam pembuatan laporan cash flow, yaitu laporan laba rugi periode berjalan dan neraca yang dibandingkan antara periode saat ini dengan periode sebelumnya. Kedua data ini membantu memperlihatkan perubahan posisi keuangan serta pergerakan kas yang terjadi di dalam perusahaan.

Dalam praktiknya, penyusunan laporan arus kas dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu 

  1. Metode tidak langsung: menggunakan laporan laba rugi sebagai dasar, lalu menyesuaikannya dengan pos non kas seperti penyusutan, piutang, dan utang usaha.
  2. Metode langsung: mencatat seluruh penerimaan dan pengeluaran kas dari aktivitas operasional secara rinci, seperti penjualan, pembayaran utang, dan biaya operasional.

Berikut langkah-langkah sederhana dalam membuat laporan cash flow:

  1. Menghitung Kenaikan dan Penurunan Kas Perusahaan
  2. Menghitung dan Melaporkan Kas Bersih Perusahaan
  3. Menghitung dan Melaporkan Kas Bersih Investasi Perusahaan
  4. Menghitung dan Melaporkan Kas Bersih untuk Aktivitas Pendanaan
  5. Menghitung dan Menjumlahkan Kas Bersih dari Semua Aktivitas

Dari hasil perhitungan tersebut, perusahaan dapat mengetahui apakah arus kas pada periode tertentu bernilai positif atau negatif. Arus kas positif menunjukkan adanya kelebihan dana yang bisa dimanfaatkan untuk pengembangan bisnis, sedangkan arus kas negatif menjadi tanda perlunya evaluasi terhadap pengeluaran dan strategi pengelolaan keuangan.

Baca juga: Lebih Baik PKPU atau Pailit Dalam Mengatasi Kesulitan Keuangan?

Contoh Cash Flow Perusahaan

Untuk mengetahui kondisi arus kas, perhitungan cash flow dilakukan dengan menggunakan rumus dasar yang menggabungkan beberapa komponen keuangan. Hasil perhitungan ini akan menunjukkan apakah posisi kas perusahaan berada dalam keadaan positif atau negatif.

Rumus umum yang digunakan adalah:

Laba Bersih ± Arus Kas Operasional ± Arus Kas Investasi ± Arus Kas Pendanaan + Saldo Kas Awal = Saldo Kas Akhir

Sebagai ilustrasi, misalnya suatu perusahaan memiliki:

  1. Laba bersih = Rp 21.000.000
  2. Arus kas dari operasi = Rp 18.000.000
  3. Arus kas dari investasi = Rp 41.000.000
  4. Arus kas dari pendanaan = Rp 61.000.000
  5. Saldo kas awal = Rp 6.000.000

Masukkan semua komponen ke dalam rumus sesuai tanda masing-masing sehingga perhitungannya menjadi:

Rp 21.000.000 + Rp 18.000.000 + Rp 41.000.000 + Rp 61.000.000 + Rp 6.000.000 = Rp 142.000.000

Jadi, saldo kas akhir perusahaan adalah Rp 147.000.000.

Hasil ini menunjukkan bahwa perusahaan berada dalam kondisi arus kas positif, yang berarti jumlah kas yang dimiliki meningkat dibandingkan periode sebelumnya. Kondisi seperti ini menandakan bahwa perusahaan mampu menghasilkan kas yang cukup untuk mendukung kegiatan operasional, investasi, maupun pembiayaan di masa mendatang.

Selain memantau kondisi keuangan perusahaan, memastikan semua urusan legalitas bisnis berjalan dengan baik juga penting. Konsultasikan dengan Smartlegal.id agar bisnis tetap patuh hukum dan siap berkembang. 

Author: Pudja Maulani Savitri

Editor: Genies Wisnu Pradana

Referensi:
https://www.btn.co.id/id/About/Gallery/Article/Article/Listing/2025/08/14/apa-itu-cash-flow 
https://www.jurnal.id/id/blog/contoh-cash-flow/

Seberapa membantu artikel ini menurut Anda?

TERBARU

PALING POPULER

KATEGORI ARTIKEL

Pendirian PT
Pendirian PT PMA
Pendirian CV
Pendirian Yayasan
Pendirian Koperasi
Pendaftaran Merek
Pendaftaran Paten
Pendaftaran Hak Cipta
Perubahan Anggaran Dasar
Trending Topic
Hukum Keluarga
Ketenagakerjaan

PENDIRIAN BADAN USAHA

PENDAFTARAN MERK

LEGAL STORY