Digugat Zara? Ini Solusi Cerdas Pelanggaran Merek Dagang

Smartlegal.id -
pelanggaran merek dagang
pelanggaran merek dagang

“Mendapat somasi dari merek raksasa bukan berarti bisnis Anda harus mati. Pelajari strategi mediasi dan solusi terhindar dari pelanggaran merek dagang ala Elzatta.”

Banyak pelaku usaha beranggapan bahwa apabila nama mereknya memiliki kemiripan dengan merek terkenal, maka sudah pasti akan kalah apabila terjadi sengketa. Padahal, dalam praktik hukum merek di Indonesia, penilaiannya tidak sesederhana itu.

Salah satu contoh yang sering menjadi pembelajaran adalah kisah merek fesyen muslim Elzatta. Pada awal perjalanannya, merek ini sempat menghadapi keberatan dari merek fashion internasional ZARA karena nama yang saat itu digunakan, yaitu Zatta, dinilai memiliki kemiripan.

Namun, alih-alih memperpanjang sengketa, pendiri Elzatta memilih menyelesaikan persoalan tersebut melalui pendekatan yang lebih kooperatif. Nama merek kemudian diubah menjadi Elzatta dengan menambahkan awalan “El”, sehingga identitas merek menjadi lebih berbeda. 

Langkah tersebut tidak hanya berhasil mempertahankan eksistensi bisnis, tetapi juga membawa Elzatta berkembang menjadi salah satu merek busana muslim terbesar di Indonesia. Kasus ini menunjukkan bahwa memiliki unsur pembeda (distinctiveness) merupakan salah satu aspek penting dalam membangun dan melindungi sebuah merek.

Baca juga: Gugatan Merek Ditolak, Kasus Sengketa Merek Arc’teryx Mengingatkan Pentingnya Pendaftaran Merek

Kronologi Kasus: Dari “Zatta” Menjadi “Elzatta” 

Pada awal perjalanannya, pendiri Elzatta, Elidawati, meluncurkan bisnis fesyen muslimnya dengan nama “Zatta”. Baru berjalan sekitar tiga bulan, krisis besar melanda. Pihak ZARA melayangkan keberatan resmi karena nama “Zatta” dinilai memiliki kemiripan fonetik (bunyi) dan visual dengan identitas mereka. Dalam kacamata hukum, ini adalah indikasi awal terjadinya pelanggaran merek dagang

Menghadapi kondisi tersebut, Elidawati tidak memilih untuk memperpanjang sengketa melalui proses litigasi. Sebaliknya, ia mengambil langkah yang lebih strategis dengan menambahkan awalan “El”, yang merupakan nama panggilannya, sehingga merek tersebut berubah menjadi “Elzatta”.

Perubahan tersebut diterima oleh para pihak dan menjadi solusi yang mampu mengakhiri potensi sengketa. Sejak saat itu, Elzatta terus berkembang hingga menjadi salah satu jaringan fesyen muslim yang dikenal luas di Indonesia.

Kasus ini menunjukkan bahwa penyelesaian sengketa merek tidak selalu harus berakhir di pengadilan. Dalam kondisi tertentu, penyesuaian merek dengan tetap mempertahankan identitas bisnis dapat menjadi solusi yang lebih efektif sekaligus memberikan unsur pembeda yang lebih kuat.

Baca juga: Ingin Daftar Merek? Cek Dulu di Sini, Apakah Namanya Sudah Terpakai?

Dasar Hukum: Mengapa Zatta Dinilai Melanggar, Tapi Elzatta Sah? 

Unsur pembeda atau daya pembeda (distinctiveness) merupakan karakteristik yang membuat suatu merek dapat dikenali dan dibedakan dari merek milik pelaku usaha lain. Melalui unsur pembeda tersebut, konsumen dapat mengidentifikasi asal barang atau jasa yang ditawarkan.

Berdasarkan Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis (UU 20/2016), merek adalah tanda yang dapat ditampilkan secara grafis, baik berupa gambar, logo, nama, kata, huruf, angka, susunan warna, bentuk dua dimensi atau tiga dimensi, suara, hologram, maupun kombinasi dari unsur-unsur tersebut.

Fungsi utama merek adalah membedakan barang dan/atau jasa yang diproduksi oleh seseorang atau badan hukum dengan barang dan/atau jasa milik pihak lain dalam kegiatan perdagangan.

Karena itu, suatu merek harus memiliki karakter yang cukup khas agar mudah dikenali oleh konsumen. Merek yang terlalu umum, bersifat deskriptif, atau tidak memiliki daya pembeda berisiko tidak memperoleh perlindungan hukum.

Hal tersebut juga ditegaskan dalam Pasal 20 huruf e UU 20/2016 sebagaimana telah diubah melalui UU Nomor 6 Tahun 2023, menyebutkan salah satu kriteria merek yang tidak dapat didaftarkan adalah merek yang tidak memiliki daya pembeda.

Dengan kata lain, unsur pembeda bukan hanya penting untuk membangun identitas bisnis, tetapi juga menjadi salah satu syarat agar merek dapat memperoleh perlindungan hukum melalui pendaftaran di DJKI.

Baca juga: Apa Itu Etiket atau Label Merek Dalam Proses Pendaftaran Merek?

3 Strategi Direksi Cegah Ancaman Pelanggaran Merek Dagang 

Agar proses pendaftaran berjalan lancar dan meminimalkan risiko penolakan, terdapat beberapa hal yang perlu dipersiapkan oleh pelaku usaha sebelum mengajukan permohonan merek, yaitu:

  • Lakukan Penelusuran Merek: Sebelum menentukan nama merek, lakukan penelusuran melalui Pangkalan Data Kekayaan Intelektual (PDKI) untuk memastikan tidak terdapat merek yang identik atau memiliki persamaan pada pokoknya dengan merek yang telah lebih dahulu terdaftar.
  • Pastikan Merek Memiliki Daya Pembeda: Hindari menggunakan nama yang terlalu umum, bersifat deskriptif, atau hanya menjelaskan jenis barang dan jasa. Sebaiknya pilih nama yang unik, mudah diingat, dan memiliki karakter khas sehingga memperlancar proses pendaftaran dan perlindungan hukum bagi merek.
  • Siapkan Label Merek: Pastikan desain atau label merek telah siap digunakan sesuai dengan identitas bisnis. Label ini nantinya akan menjadi bagian dari dokumen yang diajukan dalam proses pendaftaran merek.
  • Tentukan Kelas Barang atau Jasa yang Tepat: Pendaftaran merek menggunakan sistem klasifikasi barang dan jasa (Nice Classification) yang diterapkan oleh DJKI. Oleh karena itu, pelaku usaha perlu memilih kelas yang sesuai dengan produk atau jasa yang dijalankan agar perlindungan merek dapat diberikan secara optimal. 

Kasus Elzatta menunjukkan bahwa membangun merek bukan hanya soal memilih nama yang menarik, tetapi juga memastikan merek tersebut memiliki unsur pembeda yang kuat dan tidak menimbulkan kebingungan dengan merek lain. 

Dengan melakukan penelusuran serta mempersiapkan pendaftaran secara tepat sejak awal, pelaku usaha dapat mengurangi risiko sengketa sekaligus melindungi identitas bisnisnya dalam jangka panjang.

Sedang bimbang menentukan nama bisnis, atau baru saja menerima surat teguran terkait pelanggaran merek dagang dari perusahaan raksasa? Jangan ambil langkah hukum sendiri yang berisiko fatal! Konsultasikan mitigasi risiko, trademark clearance, hingga mediasi sengketa Anda bersama Konsultan HKI terdaftar dari Smartlegal.id. 

Author: Nasywa Azzahra

Editor:  Dwiki Julio

Seberapa membantu artikel ini menurut Anda?

[bsa_pro_ad_space id=8]

TERBARU

PALING POPULER

KATEGORI ARTIKEL

PENDIRIAN BADAN USAHA

PENDAFTARAN MERK

LEGAL STORY